Tradisi Mengurus Mayat Menurut Alkitab

Tidak ada ayat Alkitab yang secara tertentu menunjuk bahwa Tuhan mengimbuhkan satu perintah berkenaan apa yang harusnya dilakukan oleh keluarga atau Gereja pada jenazah. Demikian pula, tidak ada firman Tuhan yang secara tertentu mengatur, merekomendasikan atau melarang untuk mengurus jenazah. Alkitab mengimbuhkan kesaksian pada tubuh mati yang dikuburkan, kalau dii Perjanjian Lama (PL), Abraham sesudah hidup 175 th. – mati dan dikuburkan, dan di PB Tuhan Yesus mati di salib dan Ia termasuk dikuburkan ( Luk. 23 : 46, 50- 53). Contoh penghormatan pada tubuh mati melalui prosesi penguburan, sebagai symbol lagi ke tanah. Contoh penghormatan pada tubuh mati melalui prosesi penguburan, sebagai symbol lagi ke tanah.
Didalam narasi Alkitab ada beberapa satu} langkah mengurus Jenazah sebagaimana dikutipkan beberapa satu} ayat sebagai tersebut :
Kejadian 50:26 : Kemudian matilah Yusuf, berumur seratus sepuluh tahun. Mayatnya dirempah-rempahi, dan di tempatkan di dalam peti mati di Mesir Yohanes 11:44 Orang yang sudah mati itu berkunjung ke luar, kaki dan tangannya tetap terikat bersama kain kapan dan mukanya tertutup bersama kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.” Yohanes 19:40 : Mereka mengambil alih mayat Yesus, mengapaninya bersama kain lenan dan membubuhinya bersama rempah-rempah menurut kebiasaan orang Yahudi kalau menguburkan mayat
Dari bacaan Alkitab tersebut diatas menunjukan bahwa pengurusan jenazah bervariasi. Pembalutan kain kafan dan rempah-rempah ( seperti dibalsam untuk Mumi) bukan ajaran Kristus tapi anggota budaya nenek moyang bangsa Yahudi. Demikian pula, jenazah dimasukan di dalam peti termasuk anggota budaya nenek moyang yahudi sejak jaman Yusuf yang ditulis di dalam Kitab Kejadian 1450-1400 SM. Dengan demikian, kalau ada pertanyaan mengapa jenazah orang Kristen tidak dikafani ? itu adalah anggota berasal dari budaya Yahudi dan kala ini perkembangannya terlalu tergoda budaya masyarakat para pengikut Kristus.

Perkembangan Abad Pertengahan

Walaupun jadi abad prasejarah (zaman sebelum ditemukannya tulisan) sudah dikenal Penguburan Jenazah, ritus di dalam Ibadah Pemakamam atau Penguburan di dalam pertumbuhan Gereja secara teologis jadi perhatian sejak abad pertengahan. Abad Pertengahan adalah periode sejarah di Eropa sejak bersatunya lagi daerah bekas kekuasaan Kekaisaran Romawi Barat, dimana agama berkembang dan merubah nyaris semua kesibukan manusia. Pada abad ini, ditandai antara lain kebangkitan nasionalisme, humanisme, dan juga Reformasi Protestan bersama dimulainya renaisans (jaman kebangkitan budaya Eropa) abad 15-16 (sumber Wikipedia ensikloperdia bebas). Sebagaimana ajaran Kristen sejak Jemaat semula ( bdk. Kis. 2:47;), kematian dianggap fallen asleep, tertidur. Kematian termasuk dianggap sebagai “hari Ulang Tahun Sorgawi” yang lebih mutlak berasal dari lagi th. kelahiran. Jadi tidak mengherankan kalau catatan berkenaan kehidupan yang meninggal disatuka di dalam martirologi (kisah kesyahidan) yang dibacakan pada hari kematian atau hari lagi th. sorgawi. Demikian pula, busana atau jubah (bila biarawan) dikenakan sebagai busana Jenazah. Dan di dalam ritual itu menyaratkan Khotbah, janji dan doa (The Rite of Relegious Profession, 1989). Upacara pemakaman penuh mazmur dan pujian yang berwujud pribadi, dan lebih sentimental.
Tetapi, di dalam perkembangannya, isikan khotbah yang sentimental bergeser mengarah kesuasana menyeramkan, menakutkan, seperti penghukuman api neraka. Maksud dan tujuannya untuk mendisiplinkan orang yang tetap hidup supaya taat kepada ajaran agama. Ibadah dilakukan di halaman Gereja, supaya Khotbah mampu dedengarkan oleh semua orang atau masyarakat lazim yang menyaksikan. Doa termasuk diarahkan untuk membebaskan jenazah berasal dari kekejaman api terowongan di neraka. Sebagai bukti jaman itu, ada catatan doa ini ditulis di dalam pintu Gerbang kota di Propinsi York,( Pengantar Ibadah Kristen James A.White) . Perkembangan ini tahu kurang bersamaan bersama pemahaman Kristen semula bahwa orang mati di dalam Kristus dapat meraih hidup kekal, tidak ada siksaan.
Pada th. 1517, Matin Luther menggerakan Reformasi dilingkungan Kristen yang dikenal reformasi Protestan. Gerakan reformasi ini sudah membawa pergantian pada ibadah Pemakaman yang menakutkan jadi expresi yang lebih kuat berkenaan pengharapan. Khotbah menekankan kebangkitan orang mati, mati dianggap tidur dan nyanyian penghiburan terus digemakan. Calvin menyetujui khotbah pemakaman, tapi tidak pernah mengimbuhkan liturgy pemakaman sebagaimana normalitas Martin Luther.
Perkembangan kala ini

Pada kala ini, kami tetap melihat peti Jenazah, ibadah bersama nyanyian penghiburan, pembacaan sejarah orang yang meninggal, jenazah dibalsem/diformalin supaya tahan beberapa satu} hari untuk upacara/kebaktian penghiburan sebelum upacara penguburan. Kita termasuk melihat jenazah Mengenakan pakaian, yang kala ini dipahami sebagai lambang pengantin bahwa umat yang yakin Kristus jadi mempelai Kristus. Namun ini bukan normalitas yang mengikat di dalam kekristenan, normalitas yang tidak terkait bersama ajaran Kristus.
Dalam pertumbuhan kala ini, pemakaman Jenazah cenderung dikomersialkan. Tanah sejengkal di Kota besar bernilai, Peti Jenazah beragam corak dan bahan yang mahal.
Bunga warna-warni dan karangan bunga berderet-deret menunjukan efek yang meninggal. Pengantar jenazahpun dihidangkan Bus Ber AC pergi kepemakaman mewah nun jauh di bukit yang indah, disana sekalian Tamasya. Pelayanan Jenazah jadi kesempatan Bisnis yang untungkan : penyediaan lahan dan peti mewah. Tahukah saudara pada kala pameran di Verona, Italy dipamerkan peti mati seharga Rp 3,5 Milyar ?. Demikian pula, ada penawaran rumah duka bersama penuh fasilitas, Yayasan mmenawarkan jasa all in dan sebagainya yang tawarkan kemudahan dan jadi gengsi atau prestise keluarga yang ditinggalkan. Memang tidak semua, tapi asesoris itu tidak ada gunanya bagi orang yang sudah mati. Disisi lain, Gereja lebih sopan. khotbah coba mempersonalisasikan momen itu bersama kesaksian nilai-nilai yang positif orang yang meninggal. Kesaksian Injil sudah beralih jadi upacara pemakaman yang monumental penuh bunga, pujian kepada orang yang sudah meninggal, apalagi puisi yang berwujud personal, sehingga, momen kematian yang sebenarnya sebagai anggota berita Injil jadi terlupakan.
Cobalah direnungkan apakah Pelayanan pada Jenazah itu dasarnya tradisi, atau misi Kristus.. Tidak ada service pastoral yang miliki kesempatan rohani yang paling terbuka untuk misi kesaksian berkenaan pengharapan di dalam Kristus oleh Kedatangan kematian di dalam sebuah keluarga. Khotbah harusnya menyampaikan pesan kepada orang banyak berkenaan hal-hal yang berwujud fundamental, kebenaran yang paling basic yakni Kematian, kebangkitan dan hidup kekal. Bukan kalimat penghiburan yang kosong, tapi mengkhotbahkan Injil Harus ada keberanian untuk memimpin kepada sebuah kepastian dan pengharapan yang tak pernah gagal di dalam Kristus Yesus supaya begitu banyak orang terhilang mampu diselamatkan. Ada orang-orang yakin yang perlu diteguhkan di dalam iman sebab ditinggalkan oleh sanak saudara yang meninggal. Ada keluarga dan sahabat-sahabat yang perlu untuk diubahkan kepada kebenaran yang kekal, janji dan pengharapan nyata di dalam Kristus Yesus.
Kekristenan tidak berjalan berdasarkan normalitas tertentu, bukan ibadah yang tergoda duniawi atau menekankan keperluan ragawi, sebab kekristenan itu menekankan hal rohani yang berkaitan interaksi Allah bersama manusia, dan manusia bersama sesamanya. Kehadiran Gereja perlu berikan terang pada adat-istiadat, normalitas dan efek keduniawian yang tidak bersamaan bersama ajaran Kristus. Rasul Paulus menuliskan di dalam Surat Roma 12 :2 : Janganlah anda jadi sama bersama dunia ini, tapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, supaya anda mampu membedakan manakah niat Allah: apa yang baik, yang senang kepada Allah dan yang sempurna.
Tuhan memberkati kami semua..